
|
Aqidah
Salaf As-Sholih
"Hai
sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu
dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada
keduanya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak.
Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu
saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.
Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS.
4:1) Pendahuluan Arah
dan bingkai tersebut tak lain dan tak bukan adalah manhaj Salafusshalih;
berupa perangkat pemahaman yang utuh dari ajaran Rasulullah saw. Hal
tersebut tentunya untuk menghindari berbagai penyimpangan yang dialamai
oleh sebagian ummat Islam. Penyimpangan tersebut bervariasi; dari yang
besar sampai kepada dualisme pemahaman dengan maksud memilah-milah untuk
kepentingan tertentu. Hal itu sangat berbahaya, karena dasarnya adalah
hawa nafsu. Karena pemahaman sesungguhnya harus menyeluruh dan kita
terima tanpa tawar menawar. Salaf
dan Aqidah Untuk
melihat keutuhan aqidah Salaf, marilah kita simak ucapan Sufyan bin
Uyainah berikut ini, "Sesungguhnya Allah SWT telah mengutus nabi
kita Muhammad saw, kepada seluruh manusia, untuk menyatakan bahwa tidak
ada ilah selain Allah dan bahwasanya dia (Muhammad) adalah utusan-Nya.
Maka tatkala mereka telah mau mengatakan bersaksi seperti itu,
terjaminlah darah dan hartanya, kecuali dengan haknya, dan hisabnya
hanya kepada Allah. Ketika Allah SWT mengetahui ketulusan hal itu dari
hati nurani mereka, ia memerintahkan kepadanya (Muhammad) untuk menyuruh
mereka sholat. Maka memerintahlah ia (Muhammad), dan mereka mau
mengerjakannya. Demi Allah, seandainya mereka tidak mau mngerjakannya
(sholat) maka sia-sialah ikrar/syahadat mereka tadi, juga sholatnya.
Ketika Allah mengetahui ketulusan hati mereka (dalam mengerjakan
perintah tersebut), Allah memerintahkan kepadanya (Muhammad) agar
menyuruh mereka berhijrah menuju Madinah. Maka ia (Muhammad) memerintah
kepada mereka, dan mereka mau mengerjakannya. Demi Allah seandainya
mereka tidak mau mengerjakannya, niscaya sia-sialah syahadat dan sholat
mereka. Lalu ketika Allah mengetahui ketulusan hati mereka (dalam
mengerjakan perintah tersebut), Allah memerintahkan mereka untuk kembali
ke Mekkah, memerangi/membunuh bapak dan anak-anak mereka, sehingga bapak
dan anak-anak mereka tersebut mau bersyahadat sebagaimana syahadat
mereka, shalat sebagaimana shalat mereka, dan hijrah sebagaimana mereka
hijrah. Mereka mau mengerjakan hal itu, sampai-sampai ada diantara
mereka yang membawa kepala bapaknya, sambil berkata: "Wahai
Rasulullah, inilah kepala pemuka orang-orang kafir." Demi Allah
seandainya mereka tidak mau mengerjakannya, niscaya sia-sialah syahadat,
shalat dan hijrah mereka. Ketika Allah mengetahui ketulusan hati mereka.
Ia memerintah kepadanya (Muhammad) agar memerintah mereka bertawaf
(mengelilingi) Ka'bah sebagai ibadah dan mencukur rambut mereka sebagai
lambang rendah diri, dan mereka mau mengerjakannya. Demi Allah,
seandainya mereka tidak mau mengerjakannya, niscaya sia-sialah syahadat,
shalat, hijrah dan haji serta perlawanan perang (yang mereka lakukan)
terhadap bapak-bapak mereka. Ketika Allah SWT mengetahui ketulusan hati
mereka, maka Ia memerintahkan kepadanya (Muhammad) untuk mengambil harta
mereka sebagai sedekah yang menyucikan mereka. Maka ia (Muhammad)
memerintah mereka untuk itu, dan mereka mau mengerjakannya, sehingga
mereka membawa harta mereka baik sedikit maupun banyak. Demi Allah,
andaikan mereka tidak mau mengerjakannya, maka sia-sialah syahadat,
shalat, hijrah, perang terhadap bapak mereka dan thawaf mereka. Ketika
Allah SWT mengetahui ketulusan hati mereka, dalam mengerjakan
syari'at-syari'at iman dan batas-batasnya;" Ia SWT berkata:
"Katakanlah (hai Muhammad) kepada mereka!" "Pada
hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu."
Sufyan berkata: "Barangsiapa meninggalkan satu prinsip dari
ajaran Islam, bagi kami ia adalah kafir. Barangsiapa meninggalkannya
karena malas atau meremehkan, kita akan menghukumnya, dan ia menurut
kita adalah kurang (imannya). Inilah sunnah.....sampaikanlah dari akau,
apabila manusia bertanya kepadamu." (Al-Ajurry, Kitabu
Asy-Syari'ah hal. 103 - 104). Untuk
itu kita menggali tauhid sedalam-dalamnya, seperti yang diungkapkan oleh
imam Al-Laalikaa'i yang artinya: Demikianlah
nasehat dan wasiat dari para ulama salaf, dari kalangan shahabat,
tabi'in dan seterusnya. Salaf
Dan Kaitannya Dengan Ibadah Sesuai
dengan difinisi diatas, makna ibadah sangat luas, yang mengyangkut
dhohir maupun bathin. Pada makalah ini, kita akan membatasi pada makna
dhohirnya saja. Seperti selalu kita baca yang artinya : Untuk
mengetahui detil dari rincian ibadah dhohiriyah itu, sebaiknya kita
simak hadits Rasulullah SAW yang artinya : Bersambung.....
[Kembali Kehalaman Utama] [Kehalaman Indeks]
|