|
Ust. DR. Yusuf Qardhawi |
|
MAKNA
TEGAKNYA MASYARAKAT DI ATAS AQIDAH ISLAMI
Inilah
aqidah yang tegak di atasnya masyarakat Islam. yaitu aqidah "Laa
ilaaha illallah Muhammadan Rasuulullah." Makna dari ungkapan
tersebut adalah bahwa masyarakat Islam benar-benar memuliakan dan
menghargai aqidah itu dan berusaha untuk memperkuat aqidah tersebut di
dalam akal maupun hati. Masyarakat itu juga mendidik generasi Islam
untuk memiliki aqidah tersebut dan berusaha menghalau
pemikiran-pemikiran yang tidak benar dan syubhat yang menyesatkan. Ia
juga berupaya menampakkan (memperjelas) keutamaan-keutamaan aqidah dan
pengaruhnya dalam kehidupan individu maupun sosial dengan (melalui) alat
komunikasi yang berpengaruh dalam masyarakat, seperti masjid-masjid,
sekolah-sekolah, surat-surat kabar, radio, televisi, sandiwara, bioskop
dan seni dalam segala bidang, seperti puisi. prosa, kisah-kisah dan
teater. Bukanlah
yang dimaksud membangun masyarakat Islam di atas dasar aqidah Islamiyah
adalah dengan memaksa orang-orang non Muslim untuk meninggalkan aqidah
mereka. Tidak!, karena hal ini tidak pernah terlintas dalam benak
seorang Muslim terdahulu dan tidak akan terlintas di benak mereka untuk
selamanya. Bukankah lslam telah mengumumkan dengan kata-kata yang jelas
"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesunggahnya
telah jelas jalan yang benar daripada jalan sesat." (Al
Baqarah: 256) Sejarah
telah membuktikan bahwa sesungguhnya masyarakat Islam pada masa-masa
keemasannya adalah masyarakat yang paling toleran terhadap para
penentangnya dalam aqidah. Fakta ini diperkuat oleh banyak pernyataan
kesaksian orang-orang di luar islam sendiri. Maksud
dari tegaknya masyarakat, di atas aqidah Islam adalah bahwa masyarakat
Islam itu bukanlah masyarakat yang terlepas dari segala ikatan, tetapi
masyarakat yang komitmen dengan aqidah Islam. bukan masyarakat penyembah
berhala, dan bukan masyarakat Yahudi atau Nasrani, bukan pula masyarakat
liberal atau masyarakat Sosialis Marxisme, tetapi ia adalah masyarakat
yang bertumpu pada aqidah tauhid atau aqidah Islam, di mana aqidah Islam
itu selalu tinggi dan tidak ada yang menandingi. Islam tidak menerima
jika kalian berada di masyarakat sementara kalian tidak berperan apa
pun, dan tidak rela mengganti aqidah yang lain dengan aqidah Islamnya,
sehingga bisa meluruskan pandangan manusia terhadap Allah, manusia, alam
semesta dan kehidupan. Bukanlah
dikatakan masyarakat Islam itu masyarakat yang menyembunyikan asma
"Allah" dalam arahan-arahannya, kemudian menggantinya dengan
nama"Alam." Sebagai contoh terkadang kita katakan bahwa
sungai-sungai adalah pemberian alam, hutan juga pemberian alam, alam
itulah yang menciptakan dan yang mengembangkan segala sesuatu, bukan
Allah yang menciptakan segala sesuatu, Rabb segala sesuatu dan pengatur
segala sesuatu. Sesungguhnya
pandangan masyarakat Barat terhadap masalah ketuhanan dan kaitannya
dengan alam semesta adalah bahwa Allah telah menciptakan alam, kemudian
membiarkannya, maka tidak ada yang mengatur, tidak ada yang menguasai.
Persepsi seperti ini mirip dengan persepsi yang diambil dari para
filosof Yunani terhadap masalah ketuhanan, terutama Aristoteles yang
tidak mengenal tuhan kecuali bagian dari dirinya, adapun pandangannya
tentang alam, alam itu tidak ada yang mengatur dan tidak dikenal baik
atau buruk dari tuhan. Dan yang lehih aneh dari pada itu adalah filsafat
Aflathun yang tidak mengenal Tuhan sedikit pun, hingga dari dirinya. Adapun
persepsi masyarakat Islam tentang ketuhanan, maka itu tergambar dalam
ayat-ayat berikut ini: "Semua yang berada di langit dan yang
berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebenaran Allah). Dan
Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kepunyaan-Nya kerajaan
langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dan Dia Maha Kuasa atas
segala sesuatu. Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang
Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dialah Yang menciptakan
langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy.
Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari
padanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan
Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa
yang kamu kerjakan. Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dan
kepada Allah-lah dikembalikan segala sesuatu. Dialah yang memasukkan
malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha
Mengetahui segala isi hati." (Al Hadid: 14) Bukanlah
masyarakat Islam itu masyarakat yang mana pemahaman iman kepada Allah
dan hari kemudian menjadi kendor, kemudian diganti dengan keyakinan
terhadap aliran Wujudiyah, Qaumiyah atau Wathaniyah (kebangsaan atau
Nasionalis), atau yang selain itu dari berhala-herhala yang disembah
oleh manusia di sana sini, dari selain Allah atau bersama Allah,
meskipun mereka tidak menamakan itu semua sebagai tuhan-tuhan mereka. Bukan
pula masyarakat Islam, masyarakat yang menyembunyikan
nama"Muhammad" yang semestinya dianggap sebagai muwajjih yang
ma*shum dan uswah yang ditaati, lalu membanggakan nama"Marx"
dan"Lenin" atau yang lainnya dari para pemikir timur dan
barat. Bukan
pula masyarakat Islam itu masyarakat yang mengabaikan kitab Allah Al
Qur*an yang semestinya menjadi sumber petunjuk. sumber
perundang-undangan dan hukum, kemudian memperhatikan kitah-kilab yang
lainnya dan mengkultuskannya, dan menjadikan kitab-kitab itu sebagai
rujukan pemikiran, perundang-undangan dan sistem perilaku atau diambil
dari kitab-kitab itu nilai dan standar kehidupan. Bukanlah
masyarakat Islam itu masyarakat yang Allah, kitab-kitab-Nya dan
rasul-rasul-Nya dihina (lecehkan) sementara manusianya diam terhadap
kekufuran yang nyata ini, mereka tidak mampu memberikan pengajaran
kepada orang yang kafir dan murtad atau menggertak orang zindiq yang
menyeleweng, sehingga orang kafir itu berani menyebarkan di berbagai
media secara terang-terangan ungkapan sebagai berikut,
"Sesungguhnya manusza Arab modern adalah mereka yang menyakini
bahwa Allah dan agama-agama adalah sesuatuyang usang dan layak disimpan
dalam museum sejarah." Bukanlah
masyarakat Islam itu masyarakat yang mempersilahkan aqidah lain seperti
aqidah Komunis, Sosialis dan Nasionalisme ekstrim menggeser aqidah
Islamiyah. Sesungguhnya merupakan suatu kesalahan jika ada seseorang
mengira bahwa faham Sosialis dan yang lainnya itu bukan aqidah yang
bertentangan dengan Islam, tetapi ia sekedar aliran Ekonomi atau Sosial
yang mengambil cara tertentu untuk mengatur kehidupan manusia, dan tidak
berkaitan langsung dengan agama sehingga dikatakan sebagai aqidah,
padahal kenyataannya bahwa Sosialisme menurut pencetusnya merupakan
falsafah kehidupan yang komprehensif dan aqidah yang universal yang
memberi pandangan terhadap alam, sejarah, kehidupan, manusia dan Tuhan
yang jelas-jelas bertentangan dengan Pandangan Islam. Oleh karena itu
sebagian orang mengistilahkannya sebagai "Agama tanpa
wahyu."2) Bukan
pula masyarakat Islam itu masyarakat yang menjadikan masalah aqidah
sebagai masalah sampingan dalam kehidupan ini, sehingga tidak dijadikan
sebagai asas dari sistem pendidikan dan pengajaran, sistem pemikiran,
sistem penerangan dan pengarahan tidak pula dalam proses perubahan
secara umum kecuali hanya bagian terkecil dan terbatas. Maka aqidah
bukanlah pengarah dan penggerak yang pertama, dan bukan pula pengaruh
yang pertama dalam kehidupan individu, keluarga maupun kemasyarakatan,
akan tetapi aqidah dijadikan nomor dua dan ditempatkan di belakang,
itupun kalau memang masih ada tempat. Aqidah
dalam kehidupan masyarakat Islam pertama yang telah dibina oleh
Rasulullah SAW dan diwarisi oleh para sahabat dan tabi*in adalah
merupakan motivasi, pengarah dan hal pertama yang mewarnai dalam
kehidupan mereka, dan akhirnya dia menjadi ikatan pemersatu. Aqidah
merupakan sumber persepsi dan pemikiran. Aqidah juga merupakan asas
keterikatan dan persatuan, asas hukum dan syari*at, sebagai motor
penggerak dalam berharakah, ia juga merupakan sumber keutamaan dan
akhlaq. Aqidah itulah yang telah mencetak para pahlawan (pejuang) di
medan jihad dan untuk mencari syahid serta menempa setiap jiwa untuk
berkurban dan itsar. Demikianlah
aqidah dan pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat Islam yang pertama dan
demikianlah hendaknya pengaruh aqidah dalam setiap masyarakat yang
menginginkan menjadi masyarakat Islam, saat ini dan di masa yang akan
datang. Sesungguhnya
aqidah Islamiyah dengan segala rukun dan karakteristiknya adalah
merupakan dasar yang kokoh untuk membangun masyarakat yang kuat, karena
itu bangunan yang tidak tegak di atas aqidah Islamiyah maka sama dengan
membangun di atas pasir yang mudah runtuh. Lebih
buruk dari itu apabila bangunan yang mengaku Islam, ternyata berdiri di
atas fondasi selain aqidah Islam, meskipun telah ditulis di papan nama
dengan nama Islam, maka sesungguhnya itu merupakan pemalsuan di dalam
materi dasar bangunan yang tidak menutup kemungkinan bangunan itu akan
berakibat ambruk seluruhnya dan menimpa orangorang yang ada di dalamnya.
Allah SWT berfirman: "Maka apakah orang-orang yang mendirikan
bangunannya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridlaan (Nya) itu
yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi
jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama dengan dia ke
dalam neraka Jahannam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada
orang-orang yang dzalim." (At-Taubah: 109) Sungguh
kita telah melihat masyarakat Komunis pada masa-masa kejayaannya dan
ketika berkuasa, mereka telah menjadikan aqidah Marxisme dan falsafahnya
yang materialisme dalam undang-undang mereka secara terang-terangan.
Mereka telah menyatakan bahwa tidak ada tuhan dan kehidupan adalah
materi dalam aturan undang-undang mereka, dalam pendidikan dan
pengajaran mereka dalam kebudayaan dan pers mereka, dan dalam seluruh
sistem, lembaga dan sikap kebijakan politik mereka. Inilah
perhatian setiap masyarakat yang berideologi, maka sudah semestinya jika
masyarakat Islam menjadi cermin yang akan memproyeksikan aqidah dan
keimanannya serta pandangannya terhadap alam, manusia dan kehidupan dan
pandangannya terhadap Sang pencipta yang memberikan kehidupan. 2)
Lihat Kitab saya "Min Ajli Shahwatin Islamiyah"
Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur*an & Sunnah (Malaamihu Al Mujtama* Al Muslim Alladzi Nasyuduh)
|